Sabtu, 11 November 2017

Apakah Kau Tak Ingin Menikah?



Kisah di bawah ini adalah kisah tentang pembantu Rasulullah Saw. yang bernama Rabi'ah. Sudut pandang yang digunakan dalam kisah di bawah adalah sudut pandang "aku" atau sudut pandang orang pertama. Berikut adalah kisahnya.

Rasulullah ﷺ memiliki beberapa sahabat yang menjadi pembantu beliau. Mengerjakan beberapa pekerjaan yang meringankan kesibukan beliau sebagai seorang pimpinan agama dan negara. Di antara pembantu beliau adalah Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiallahu ‘anhu.
Rasulullah ﷺ adalah sosok penyayang dan perhatian. Beliau memperhatikan keadaan sahabat-sahabatnya. Membantu mereka yang kekurangan. Menjenguk yang sakit. Dan memberi masukan untuk kebaikan dunia dan akhirat mereka. Perhatian serupa beliau berikan juga pada Rabi’ah bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, Rabi’ah bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu bercerita:
Aku adalah seorang yang membantu Nabi ﷺ. Beliau berkata padaku, “Wahai Rabi’ah, apakah kau tidak ingin menikah?”
“Demi Allah, wahai Rasulullah, aku belum ingin menikah. Aku tak punya sesuatu yang bisa menanggung seorang wanita. Selain itu, aku tak ingin ada hal yang membuatku sibuk dari melayanimu.”, jawabku.
Kemudian Nabi ﷺ pun berlalu. Aku kembali melayani beliau seperti biasa.
Pada kesempatan berikutnya, beliau bertanya untuk kali kedua, “Wahai Rabi’ah, apakah kau tidak ingin menikah?”
“Aku belum ingin menikah. Aku tak punya sesuatu yang bisa menanggung seorang wanita. Selain itu, aku tak ingin ada sesuatu yang membuatku sibuk dari melayanimu.”, jawabku. Rabi’ah belum mengubah pendiriannya.
Nabi ﷺ pun berlalu. Kali ini aku merenungi diriku. “Demi Allah, sungguh Rasulullah ﷺ tahu sesuatu yang terbaik untuk kehidupan duniaku dan akhiratku. Dia lebih tahu dari diriku. Demi Allah. seandainya ia kembali bertanya tentang menikah, akan kukatakan kepadanya, ‘Iya Rasulullah, perintahkanlah aku dengan sesuatu yang engkau kehendaki’.” Gumam Rabi’ah.
Kemudian Rasulullah kembali bertanya, “Wahai Rabi’ah, apakah kau tidak ingin menikah?”
“Tentu mau, perintahkan aku dengan apa yang Anda kehendaki.”, jawabku.
Beliau memerintahkan, “Pergilah ke keluarga Fulan. Suatu kampung dari kalangan Anshar.” Mereka lambat menunaikan perintah Nabi ﷺ. “Katakan pada mereka, Rasulullah ﷺ mengutusku kepada kalian. Dia memerintahkan agar kalian menikahkanku dengan Fulanah -salah seorang wanita dari kalangan mereka-.”
Aku pun pergi. Dan kusampaikan kepada mereka bahwa Rasulullah ﷺ mengutusku kepada kalian. Beliau memerintahkan agar kalian menikahkanku dengan Fulanah. Mereka menjawab, “Selamat datang kepada Rasulullah dan utusannya Rasulullah ﷺ. Demi Allah, utusannya Rasulullah ﷺ tidak akan pulang kecuali keperluannya telah terpenuhi.”
Mereka menikahkanku dan bersikap lemah lembut terhadapku. Mereka sama sekali tidak minta penjelasan padaku. Kemudian aku kembali menemui Rasulullah ﷺ dalam keadaan haru. Beliau bertanya, “Apa yang terjadi padamu wahai Rabi’ah?”
“Wahai Rasulullah, aku menemui suatu kaum yang mulia. Mereka menikahkanku, memuliakanku, dan bersikap baik kepadaku. Mereka sama sekali tidak meminta bukti. Hanya sayangnya, aku tidak memiliki mas kawin.”, jawabku.
Rasulullah ﷺ berkata, “Wahai Buraidah al-Aslami, kumpulkan untuknya sebiji emas.”
Mendengar hal itu, para sahabat mengumpulkan biji emas untukku. Kuambil apa yang telah mereka kumpulkan. Kemudian aku kembali menghadap Nabi ﷺ. Beliau berkata, ‘Pergilah kepada mereka dengan membawa ini. Katakan! ini adalah mas kawinnya’. Aku berangkat menemui mereka dan kukatakan, “Ini mas kawinnya”. Mereka pun ridha dan menerimanya. “Mas kawin seperti ini sudah sangat banyak dan baik sekali”, kata mereka.
Rabi’ah al-Aslami radhiallahu ‘anhu melanjutkan:
Lalu aku pulang menemui Nabi ﷺ dalam keadaan sedih. Beliau bertanya, “Wahai Rabi’ah kenapa kamu bersedih?”
Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tak pernah melihat kaum yang lebih mulia dari mereka. Mereka rela dengan apa yang kuberikan dan berlaku sangat baik. Kata mereka, ini sangat banyak dan bagus. Hanya sayang, aku tak punya sesuatu yang bisa kugunakan untuk mengadakan walimah. Beliau bersabda, “Wahai Buraidah, tolong kumpulkan kambing untuknya”.
Lalu mereka mengumpulkan kambing yang banyak dan gemuk. Setelah itu, Rasulullah ﷺ berkata padaku “Pergilah dan temuilah Aisyah dan katakan padanya agar dia mengirim beberapa keranjang berisi makanan”. Aku pun menemuinya dan kukatakan padanya segala yang Rasulullah ﷺ perintahkan padaku.
Ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan, “Ini keranjang berisi sembilan sha’ gandum. Demi Allah, jika besok ada makanan lain, ambillah.” Kuambil makanan itu dan kubawa menuju Nabi ﷺ. Ku-kabarkan pada beliau apa yang dikatakan Aisyah. Lalu beliau bersabda, “Bawalah barang-barang ini ke sana, dan katakan pada mereka agar mereka gunakan untuk membuat roti”. Aku berangkat ke sana. Membawa kambing dan berangkat bersama beberapa orang dari Aslam.
Seorang dari Aslam berkata, “Tolong besok barang-barang ini telah diolah menjadi roti”. Bersama beberapa orang Aslam, kutemui mereka dan kubawakan kambing. Salah seorang dari Aslam mengatakan “Tolong besok gandum ini diolah menjadi roti, dan kambing ini telah dimasak”.
Mereka menjawab, “Untuk membuat roti, cukuplah kami saja. Tapi untuk menyembelih kambing, kalianlah yang mengerjakannya”. Segera kami ambil kambing yang ada. Kami semebelih, lalu kami bersihkan. Kemudian memasaknya. Akhirnya tersedialah daging dan roti. Aku mengadakan walimah dengan mengundang Rasulullah ﷺ. Beliau pu memenuhi undanganku.
Pelajaran:
Pertama: Perhatian dan kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada para sahabatnya. Terlebih mereka yang miskin. Inilah sifat beliau ﷺ yang Allah ﷻ puji dalam Alquran.
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS:At-Taubah | Ayat: 128).
Kedua: Nabi ﷺ memiliki tanggung jawab terhadap orang-orang yang berada di bawah tanggungannya.
Ketiga: Nabi ﷺ pandai membaca kondisi. Beliau ﷺ tahu apa yang terbaik dan yang dibutuhkan oleh orang lain.
Keempat: Nabi ﷺ tahu hal apa yang terbaik bagi dunia dan akhirat sahabatnya. Demikian juga untuk umatnya. Sehingga ketika kita tahu Nabi ﷺ memerintahkan kita pada suatu perkara, yakinlah! hal itu yang terbaik untuk kita. Walaupun kadang bertentangan dengan keinginan dan nafsu kita.
Kelima: Perhatikanlah bagaimana respon orang-orang yang beriman terhadap perintah Rasulullah ﷺ. Keluarga perempuan yang ditemui Rabi’ah begitu cepat menerima perintah Nabi ﷺ, tanpa menanyakan apapun. Syaikh Muhammad bin Nashir as-Suhaibani hafizhahullah mengatakan, “Mereka disebut lambat menunaikan perintah Nabi karena rumah mereka yang jauh dari Nabi. Atau mereka jarang bertemu Nabi.”
Keenam: Rasa persaudaraan di antara para sahabat begitu luar biasa. Persaudaraan yang bukan hanya sekadar pengakuan. Tapi mereka membuktikannya dengan saling tolong-menolong. Mereka mengumpulkan mahar dan mempersiapkan logistik untuk resepsi pernikahan Rabi’ah. Inilah gambaran masyarakat Madinah kala itu.
Ketujuh: Rasulullah ﷺ mengenal dengan baik pribadi Rabi’ah. Dan beliau juga mengetahui pribadi perempuan itu. Sehingga keduanya beliau anggap cocok. Sehingga pernikahan itu maslahat untuk keduanya.
Kedelapan: Rabi’ah menunda nikah karena ‘asyik’ dengan kegiatannya saat itu. Ia tidak mau ada hal yang menyibukkannya sehingga mengganggu ibadahnya. Yakni melayani Rasulullah ﷺ.
Kesembilan: Jika Anda benar-benar memahami hakikat menikah. Tanggung jawab dan konsekuensinya, maka menikah adalah solusi. Allahu A’lam..



Selasa, 24 Oktober 2017

Jadikan Mahasiswa Berakhlak Mulia dengan Peskil Akademi


Makassar, Pusdamm-Sebanyak 397 mahasiswa muslim mengkikuti Pesantren Kilat (Peskil) Akedemi di masjid Ulil Albab FBS UNM pada Sabtu (21/10) kemarin.

Kegiatan tersebut mengangkat tema “menjadi generasi cerdas berakhlak mulia dengan Al-Qur’an.”Kegiatan ini adalah upaya dari salah satu lembaga dakwah, Pusat Studi dan Dakwah Mahasiswa Muslim Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (Pusdamm BEM FBS UNM) untuk menjadikan mahasiswa, khususnya mahasiswa baru untuk cinta terhadap Al-Qur’an.



Pusdamm BEM FBS UNM menghadirkan PD III FBS UNM, Dr. Abdul Halim, M.Hum. sebagai keynote speaker. Selanjutnya, LDF tersebut menghadirkan Ustad Askar Yaman dan Ustad Syamsuar Hamka sebagai pemateri.

Dilansir dari lingkardakwah.com, Pesantren Kilat Akademi ini telah didukung dan bekerjasama dengan pihak birokrasi FBS UNM dan Dosen Mata Kuliah Umum (MKU) Pendidikan Agama Islam (PAI).

Di samping itu, Pembantu Dekan III, Abdul Halim sangat mengapresiasi adanya kegiatan ini serta sangat senang Pusdamm BEM FBS UNM mengadakan kegiatan seperti ini.

“Bagus Sekali, karena ini adalah salah satu upaya Pusdamm sebagai biro dari BEM FBS UNM ini untuk mengadakan kegiatan islamiah,” ungkapnya saat ia hendak memasuki mobil.


PD III saat diberi piagam oleh Ketua Umum Pusdamm BEM FBS UNM

Salah satu peserta Peskil Akademi, Achmad Ridwan senang pihak biokrasi mendukung kegiatan ini.

“Kami (baca: peserta) sangat bersyukur karena beliau memberikan ruang bagi acara ini,” ucap mahasiswa yang kerap disapa Ridwan ini.

Erwin selaku Ketua Umum Pusdamm BEM FBS UNM berharap agar mahasiswa tidak hanya cerdas, tapi mampu untuk berakhlak mulia.


Reporter:  Anggota Departemen Syiar Pusdamm BEM FBS UNM

Jumat, 13 Oktober 2017

Pemberian Nama dalam Islam

Oleh Sumadi Al Jawiy, S.Pd.

Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan agama ini (Islam). Mulai dari hal yang besar hingga hal yang kecil pun telah ditetapkan aturannya (baca: syariat).

Persoalan nama adalah hal yang penting dalam Islam. Oleh karena pentingnya, pemberian nama pun ada syariatnya. Jika kita sering mendengar dimasyarakat "apalah arti sebuah nama?", yang mengindikasikan bahwa nama itu tidak penting, Islam dengan syariatnya berlawanan seratus delapan puluh derajad dari hal itu. Nama sangat penting. Nama adalah identitas sesuatu, sehingga dengan nama itu kita dapat mengenal satu sama lain.

Islam mensyariatkan agar memberi nama yang baik dan melarang memberikan nama yang buruk kepada anak. Sebab, nama adalah doa. Tentu saja semua ingin didoakan yang baik.

Rasulullah sebagai teladan terbaik umat manusia tidak pernah main-main dalam nama. Tidak ada satu pun putra beliau shalallahu ailaihi wasalam diberi nama yang buruk. Beliau juga tidak segan mengganti nama sahabat jika nama itu tidak baik. Pernah suatu ketika beliau bertemu dengan seorang wanita, beliau menanyakan nama wanita tersebut. Wanita itu menjawab bahwa namanya adalah 'Ashiyah (عاصية), yang berarti wanita yang bermaksiat. Beliau pada saat itu juga mengganti nama wanita itu dengan Jamilah, yang berarti cantik.

Bukan hanya nama yang buruk saja yang harus diganti. Nama yang terdengar aneh pun dianjurkan untuk diganti. Satu kisah, ketika ada seseorang menemui nabi, nabi bertanya nama orang tersebut. Orang itu bernama Syihab, yang berarti panah-panah api. Nama tersebut kurang nyaman didengar, sehingga Rasulullah menggantinya menjadi Hisyam (orang yang dermawan).

Di keluarga Rasulullah, Rasulullah mempunyai dua orang istri bernama Barroh (yang berarti kebaikan), diganti juga oleh Rasulullah. Sebab, beliau tidak ingin jika suatu saat ada yang berkata
 خرج رسول الله من بره
(Rasulullah keluar dari Barroh). Yang mungkin maksudnya adalah Rasulullah keluar dari rumah Barroh. Namun, jika orang kafir yang mendengar kalimat itu, mungkin mereka akan menafsirkan bahwa Rasulullah telah keluar dari kebaikan (yang berarti menuju ke keburukan/kejahatan). Rasulullah mengganti nama istri beliau menjadi Zainab, yang berarti pohon yang rindang dan manis buahnya, dan Barroh yang satunya menjadi Juwairiyah.

Fathimah bintu Rasulullah ketika melahirkan anak pertamanya, Rasulullah bertanya kepada Ali bin Abu Tholib tentang nama yang diberikan kepada anaknya. Ali menjawab bahwa nama anaknya adalah Harb (perang). Ali adalah panglima perang yang tangguh. Tentu mempunyai cita-cita yang tinggi agat keturunannya dapat menjadi panglima perang yang tangguh pula. Namun, Rasulullah tidak setuju dengan nama itu. Beliau menggantinya dengan nama Hasan. Anak kedua Ali pun diberi nama Harb olehnya, tetapi Rasulullah menggantinya lagi menjadi Husain.

Sebagai umat Islam, sudah wajibnya kita mengetahui tentang pentingnya memberi nama yang baik kepada anak. Dilarang memberi nama: Allah, Rahman, Syaithon/Setan, Iblis, Dajjal, Dasim (setan penunggu dan penggoda rumah tangga), Dasimah (setan perempuan penggoda rumah tangga).

Nama yang dianjurkan adalah nama-nama nabi, sahabat, dan asma Allah yang didahului kata Abdu (Abdullah, Abdurrahman, Abdurrohim, Abdul Aziz, dsb.). Perlu diketahui, oleh karena dilarangnya memberi nama Rahman, jika ada orang yang bernama Abdurrahman, juga dilarang memanggilnya Rahman. Memanggilnya harus lengkap.

Bagaimana dengan nama julukan (karan dalak bahasa Jawa)? Dilarang juga menjuluki seseorang/teman dengan nama yang buruk. Apalagi jika orang tersebut tidak ikhlas. Fenomena di masyarakat Indonesia, suka menjuluki teman akrab dengan nama yang buruk (Kepet, kampret, dsb.). Mari kita ubah panggilan mereka! Mari beradab kepada mereka!
Wallahu a'lam

Sengkang, 25 September 2017

Rabu, 11 Oktober 2017

Mengukur Keimanan (Bagian 2)

Oleh Sumadi Al Jawiy, S.Pd.

Pada artikel sebelumnya, penulis telah memaparkan ciri-ciri orang yang bertakwa yang ditengarai dengan beriman kepada yang ghaib dan mendirikan sholat. Pembahasan tentang sholat membutuhkan pembahasan tersendiri yang terpisah dari judul ini. Insyaallah akan dibahas kemudian. Pada kesempatan kali ini, penulis melanjutkan pembahasan yang lalu.

Setelah beriman kepada yang ghaib dan mendirikan sholat, kata iman di Surah Al Baqarah ayat ketiga disambung dengan menginfakkan sebahagian rizki yang Allah anugerahkan.

Infak (termasuk di dalamnya zakat dan sedekah) telah sering kita dengar istilahnya dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sering kita jumpai sarana untuk berinfak, kotak infak masjid contohnya. Kedudukan infak dalam Islam sangatlah penting. Infak merupakan sarana menyucikan harta bagi muslim yang mampu sekaligus bantuan untuk para fakir dan miskin. Dengan adanya infak jalinan persaudaraan (ukhuwah islamiah) antara orang yang berada dan orang yang papa akan terbangun erat. Pertemuan di antara mereka akan menghilangkan sekat-sekat kebencian dan permusuhan antarmuslim.

Infak dapat mengukur keimanan, terutama kepada orang yang berada bahwasanya tidaklah infal itu mengurangi harta, melainkan semakin menambah harta yang dimiliki. Bagi yang kuat keimanannya tentu percaya dengan hadis ini, tetapi bagi yang lemah iman tentu kepercayaannya berkurang karena secara lahir harta itu berkurang ketika dikeluarkan (diinfakkan).

Infak juga dapat dijadikan alat ukur keimanan ketika terjadi musibah/bencana yang menimpa saudara muslim kita. Penderitaan saudara muslim di Ghaza, Aleppo (beberapa waktu yang lalu), dan Rohingya, misalnya, seberapa prihatinkah hati kita? Tergerak keinginan untuk membantu merekakah kita? Atau malah sibuk mencari pembenaran pihak yang menyengsarakan mereka?

Wallahu a'lam

Mengukur Keimanan (Bagian 1)

*Oleh Sumadi Al Jawiy, S.Pd.

Iman merupakan hal yang paling vital dalam kehidupan. Iman ibarat jantung dalam organ tubuh. Tanpa adanya iman, kematian terjadi secara batiniah, walaupun secara lahiriah masih hidup.

Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai Rabb (pelindung) senantiasa mengingatkan hamba-Nya untuk menjaga dan meningkatkan keimanan. Untuk mengetahui tingkat keimanan kita, Allah telah memberikan tolok ukur keimanan. Alquran dan sunah (baca: hadis) merupakan alat ukur (measurement tools) keimanan kita. Untuk mengukurnya, kita dapat membandingkan keadaan kita dengan kriteria orang-orang beriman di dalam Alquran dan sunah.

Ayat pertama yang kita jumpai di dalam Alquran yang berbicara masalah iman adalah surah Al-Baqarah ayat 3-4.

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka; dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (Terjemah Qs. Al-Baqarah: 3-4)

Ciri orang beriman yang pertama adalah beriman kepada yang ghaib. Beriman kepada yang ghaib bukan hanya berarti bahwa Allah, malaikat, jin, dan hari akhir itu ada, tetapi juga harus meyakini Allah dengan segala sifat dan kekuasaan-Nya, adanya malaikat dan tugas-tugasnya, adanya jin beserta sifat-sifatnya, adanya kematian, siksa dan nikmat kubur, penghitungan amal, surga dan neraka beserta hal-hal yang menyebabkan manusia masuk ke dalamnya.

Ciri orang beriman berikutnya adalah mendirikan shalat. Allah selalu menggunakan kata mendirikan/dirikan (قام) untuk kata shalat. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan. Jikalau kita belajar biologi, sesuatu untuk dapat berdiri dengan kokoh perlu daya guna yang kuat untuk menyokongnya. Pohon dapat berdiri kokoh dengan batang yang besar, daun yang rimbun, dan buah yang lebat karena mempunyai akar yang menghunjam kuat, panjang, dan menjalar ke dalam bumi. Manusia dan hewan untuk dapat berdiri perlu tulang, otot-otot, syaraf-syaraf, dan seluruh anggota tubuh yang bekerja dengan maksimal untuk menopang badan. Begitu pula dengan shalat. Perlu usaha yang maksimal pula agar shalat dapat berdiri dengan kokoh dan terjaga dengan baik. Begitu banyak orang yang kuat dalam angkat besi, menang dalam lomba lari, sering mendaki gunung, dan kuat dalam aktivitas fisik lainnya, tetapi tidak kuat untuk berdiri melakukan shalat.

Manusia dengan berbagai keragamannya, berbagai ragam juga tingkat keimanannya. Terhadap shalat, ada orang yang bersungguh-sungguh mendirikan shalat, bahkan sampai menyesal jika ketinggalan satu shalat sunah saja. Sementara itu, ada yang tenang-tenang saja ketika ketinggalan shalat wajibnya, bahkan merasa tenang meninggalkan shalat. Padahal, shalat adalah perkara yang pertama kali dihisab di hari kiamat.
Karena pentingnya masalah shalat, imam Syafi'i berkata, "Apabila engkau menjumpai orang yang tidak shalat, maka bertakbirlah empat kali kepadanya!" Hanya orang yang matilah yang ditakbiri empat kali. Ini berarti jikalau tidak shalat, laksana orang yang telah mati.

Seberapa besar keimanan Anda? Ukurlah dengan shalat!

Bersambung, InsyaAllah.

*Penulis merupakan anggota MSO (Majelis Syuro Organisasi) Pusdamm UNM (Pusat Studi dan Dakwah Mahasiswa Muslim Universitas Negeri Makassar)

Minggu, 01 Oktober 2017

Pentingnya Dakwah Fardiyah

(MATERI PELATIHAN DAKWAH FARDIYAH, 30 SEPTEMBER 2017, MASJID ULIL ALBAB FBS UNM)

Ustad Erwin Ardiansyah, S.Pd.


Pengertian Dasar
Secara bahasa, dakwah berarti seruan/panggilan, permintaan dan permohonan. Sedangkan secara istilah, dakwah berarti memanggil manusia kepada Allah dengan baik sehingga beriman kepada Allah dan bertauhid kepadaNya.
Adapun dakwah fardiyah secara bahasa yaitu aktivitas dakwah yang dilakukan secara personal (individu). Sedangkan secara istilah dakwah fardiyah berarti ajakan atau seruan kepada Allah Swt. yang dilakukan seorang da’i kepada orang lain secara individu dengan tujuan memindahkan mad’u (target dakwah) kepada keadaan yang lebih baik yang diridhai oleh Allah Swt.

Metode Dakwah
1.       1. Lewat tulisan; yaitu mengajak manusia kepada Allah Swt. melalui sebuah tulisan. Misal pamfet dakwah.
2.       2. Lewat media sosial (social media); yaitu mengajak manusia kepada Allah Swt. melalui media sosial seperti facebook, instagram, Line, dan lain sebagainya. Metode ini adalah metode yang paling efektif karena mengingat sekarang kita berada dalam era digital.
3.    3. Dakwah fardiyah; yaitu dilakukan secara personal/individu. Metode ini juga cukup ampuh dalam berdakwah karena seorang da’i bisa mengenal mad’u nya secara mendalam.

Esensi Dakwah Fardiyah
Dalam berdakwah fardiyah, haruslah bergerak dengan kualitas yang baik. Dakwah fardiyah merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh seluruh aktivis dakwah.

Tujuan Dakwah Fardiyah
Adapun tujuan dakwah fardiyah yaitu membentuk sumber daya manusia dalam sebuah pergerakan kepada Allah secara jamaah. SDM yang dimaksud adalah aktivis dakwah yang memiliki kualitas.
Dakwah adalah hal yang paling penting dalam kehidupan manusia. Sebagaimana firman Allah Swt.:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran: 104)

Karakteristik Dakwah Fardiyah
1.    Adanya bincang-bincang dan tatap muka;
2.    Bersama mad’u;
3.    Kontinyu (bekelajutan);
4.    Mudah;
5.    Mengungkap potensi dan bakat mad’u.

Prioritas Dakwah Fardiyah
1.    Antara seorang muslim dan non-muslim, maka utamakan yang muslim;
2.    Antara yang terdekat dan terjauh, maka utamakan yang terdekat;
3.    Antara yang muda dan tua, maka utamakan yang muda;
4.    Antara yang tawadhu dan sombong, maka utamakan yang tawadhu;
5.    Antara belum memiliki jamaah dan yang sudah, maka utamakan yang belum memiliki jamaah;
6.    Antara yang memiliki wawsan luas dan sempit, maka utamakan yang memiliki wawasan luas;
7.    Antara seprofesi dan beda profesi, maka utamakan yang seprofesi;
8.    Antara orang yang memiliki pengaruh dan tidak, maka utamakan yang memiliki pengaruh.

Akhlah yang Harus Dimiliki Da’i dalam Dakwah Fardiyah
1.    Keteladanan; seorangaktivis dakwah harus bisa menjadi teladan bagi mad’u kita. Misal, prestasi, dan lain-lain.
2.    Ikhlas; yaitu berdakwah karena Allah, bukan karena organisasi.
3.    Sabar; yaitu bersabar dalam melihat sifat mad’u yang tidak disenangi.
4.    Optimis dan tsiqoh (percaya) kepada Allah; boleh jadi dari satu orang yang gagal diajak dalam kebaikan, menjadi sebab Allah mendatangkan banyak orang untuk ikut dalam kebaikan yang kita seru.
5.    Memahami agama; merupakan bekal penting bagi seorang da’i dalam berdakwah fardiyah.
6.    Berkorban; yaitu untuk mengantarkan mad’u ke dalam kebaikan.
7.    Sikap antisipasi gagal dakwah; hal ini bertujuan agar tidak kecewa ketika mad’u kita tidak diberikan hidayah.
8.    Lebih dari satu mad’u; jika kita gagal memberikan seruan kepada seorang mad’u, maka masih banyak yang lain yang harus diseru oleh seorang da’i.
9.    Penuh perhitungan dan tidak tergesa-gesa; langkah-langkah dakwah fardiyah  yang dilakukan harus disesuaikan dengan kondisi mad’u.
10. Berlemah lembut; contoh dakwah nabi Musa as. kepada Fir’aun dengan cara yng lembut, contoh lain dakwah nabi kepada seseorang Badui yang buang air di masjid.
11. Menjaga ukhuwah; dengan cara memberikan haq-haq (hak-hak) seorang muslim.
12. Bekerja sesuai tujuan; tujuan dakwah fardiyah adalah mengajak mad’u untuk dilibatkan dalam halaqah tarbiyah.
13. Menjadikan dakwah sebagai kesibukan utama; apapun kedudukan kita dalam keseharian, maka jadikan dakwah sebagai tujuan utama.
14. Menyadari bahwa hidayah itu milik Allah; berdoa kepada Allah agar mad’u kita diberikan hidayah oleh Allah.

Cara Melakukan Perkenalan dengan Mad’u
1.    Jangan sampaikan pertanyaan yang jawabannya ya atau tidak sehingga percakapan bisa berlangsung lama.
2.    Menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian. Dengan bertanya seputar diri mad’u tersebut.
3.    Perbincangkan seputar hal yang umum, yang sesuai dengan kondisi mad’u (misal hobi).
4.    Jika sudah akrab, berikan pertanyaan yang mendalam seputar bakatnya, sehingga bisa memiliki bayangan tentang posisinya dalam kerja-kerja dakwah.
5.    Saling berkunjung.
6.    Ikutkan ke daurah.

Untuk materi versi audio, silakan klik tautan di bawah ini:


Departemen Syiar
PUSDAMM BEM FBS UNM

Jumat, 29 September 2017

Muslim Sejati #2


“Barangsiapa meniru-niru suatu kaum, maka ia termasuk golongannya (kaum tersebut).” {H.R. Bukhari}

Setiap akhir tahun pasti ada perayaan hari raya agama lain. Apa itu? Tentu kita semua sudah mengetahui hal itu: Natal. Natal artinya lahir. Hari natal dirayakan untuk memperingati hari lahir Yesus (nabi Isa ‘Alaihissalam) yang dipercaya sebagai anak Allah. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan akidah (keyakinan) kita. Seperti ayat yang dikutip pada edisi I lalu, bahwa Allah Maha Esa, tidak beranak dan diperanakkan. Mahasuci Allah dari sifat tersebut. Berikut kutipan ayatnya:

Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.  Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia"

Sungguh merupakan suatu kesalahan apabila kita menganggap hamba Allah sebagai anak Allah atau bahkan sebagai Tuhan selain Allah. Allah telah memberikan penjelasan dan peringatan kepada kaum Nashrani (ahli kitab) dengan panjang lebar bahwa Isa Al Masih adalah hambaNya.

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara. (Terjemah Qs. An-Nisa’: 171)

Bahkan Yesus (Isa Al Masih ‘Alaihissalam) pun juga menegaskan bahwa dirinya bukan anak Allah (ibnu Allah) melainkan seorang hamba Allah (‘abdu Allah). Pernyataan ini jelas tersurat dalam Alquran surah Maryam ayat 30:

Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah (‘abdu Allah), Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.

Dari berbagai pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa akidah yang menganggap Isa Al Masih adalah anak Allah merupakan suatu akidah yang batil. Oleh karena itu, tidak pantas bagi seorang muslim untuk memberikan ucapan selamat atas hari raya mereka (natal). Bagaimana mungkin orang yang tersesat akan diberi ucapan selamat? Sikap yang seharusnya kita lakukan kepada orang yang tersesat adalah dengan menolongnya, memberikan petunjuk kepadanya untuk meniti jalan yang benar. Bukan malah memberikan ucapan selamat kepadanya.

Kita hidup di negara Indonesia yang terdiri atas berbagai agama dan kepercayaan. Antara pemeluk agama yang satu dan yang lainnya dianjurkan untuk toleran. Sikap yang hendaknya diambil oleh umat Islam sebagai toleransi terhadap mereka dalam perayaan ibadah mereka adalah sekadar memberikan kesempatan mereka untuk beribadah dan merayakan hari raya mereka, tidak turut campur dalam perayaan ibadah mereka atau memberi ucapan selamat kepada mereka. Tidak pula memekai atribut atau kostum yang mereka kenakan.

Terkait masalah toleransi beragama, Allah telah memberikan syariat kepada kita untuk kita taati. Ada satu surah khusus di dalam Alquran yang diturunkan kepada kita terkait dengan toleransi beragama.

Katakanlah: "Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku"

Sebagai sorang muslim, hendaklah kita senantiasa menjaga akidah kita agar kriteria pertama muslim sejati, yakni salimul akidah itu tetap terjaga. Pemerintah (dalam hal ini MUI –Majelis Ulama Indonesia) telah mengeluarkan fatwa HARAM kepada umat Islam untuk memberikan ucapan selamat atas hari raya agama lain (natal).

Sebagai penegasan, toleransi tidaklah berarti kita harus mengikuti, turut merayakan, dan memberikan ucapan selamat. Toleransi adalah memberikan kebebasan atau kesempatan kepada mereka untuk menjalankan ibadah mereka.

Semoga Allah selalu memberikan hidayahNya kepada kita dengan menjaga keselamatan akidah kita. Aamiin.

Wallahu a’lam.

Muslim Sejati


“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (Qs. 2: 208).”

Suatu hari di suatu pasar sentra oleh-oleh, ada seseorang yang sedang menawar ikat pinggang kulit. Penjual tersebut menawarkan dengan harga yang sangat tinggi, dengan dalih bahwasanya sulit menemukan bahan ikat pinggang tersebut, dan sulit pula membuatnya. “Mahal sekali, Bang. Ini asli seratus persen dari kulit, kah?” tanya calon pembeli tersebut. Dia mengiginkan ikat pinggang yang akan dia beli adalah ikat pinggang yang 100 persen asli dari kulit.

Setiap orang pasti ingin barang yang dimilikinya itu 100% terbuat dari bahan yang asli. Begitu pula Allah Subhanahu Wa Ta Ala, menginginkan hambaNya untuk berislam secara 100%, secarakaffah, be the real moslem. Lantas, bagaimana cara menjadi muslim yang kaffah?

Karakteristik yang harus dimiliki untuk menjadi muslim sejati, pertama adalah salimul aqidah(akidah yang selamat). Salimul aqidah mencakup banyak aspek. Aspek utama dalam hal ini adalah mengesakan Allah (yuwahidullah). Perintah tauhid kepada Allah sudah sangat jelas tersurat dalam Alquran surah Al Ikhlas: 1-4

Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.  Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia"

Sebagai seorang muslim sejati haruslah yakin akan kebenaran hal itu serta mengetahui dan bersikap teguh di atas pendirian untuk mentauhidkan Allah. Mentauhidkan Allah juga merupakan pintu gerbang pertama untuk masuk Islam, yakni ketika membaca kalimat syahadat, laa illaha ilallah(tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah). Namun, kebanyakan umat tidak menyadari hal ini. Kalimat tauhid ini hanya sebatas ujaran di lisan, tidak sampai menancap di hati dan diaktualisasikan lewat perbuatan.

Kesyirikan (perbuatan menyekutukan Allah) masih merebak di mana-mana. Kepercayaan masyarakat akan jimat-jimat, hari keberuntungan, zodiak, horoskop, peramal, paranormal, dukun, dan sebagainya masih menjadi hal yang umum dan lumrah. Padahal, kesyirikan merupakan dosa terbesar yang tidak dapat diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta ‘Ala, sebagaimana firmanNya:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (Qs. An-Nisa’: 48)

Maka dari itu, untuk menjelaskan perkara-perkara tentang kesyirikan dan untuk mengajarkan manusia kepada kebaikan serta memberikan peringatan-peringatan, Allah mengutus seorang nabi atau rasul untuk umat manusia. Begitupun dengan kita, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam diutus untuk memberikan peringatan kepada manusia dari perbuatan syirik.

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya"(Qs. Al Kahfi: 110)

Untuk dapat meraih gelar muslim sejati yang akidahnya selamat, tentu kita perlu belajar, kembali kepada Alquran dan sunah. Bukankah kita hanya diminta untuk beribadah dan memurnikan ketaatan kita kepada Allah? Apa ganjaran yang akan kita dapatkan dengan memurnikan ketaatan ini kepada Allah?

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ´Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (Qs. Al Bayyinnah: 5-8)

Surga merupakan balasan bagi orang-orang yang memurnikan ketaatan kepada Allah. Bukankah surga merupakan sesuatu yang sangat mahal? Begitulah, kemurnian akidah akan dapat balasan yang mahal dari Allah, yaitu surgaNya. Sebagaimana ikat pinggang kulit tadi. Karena terbuat dari kulit murni seratus persen, maka wajar jika harga barang itu sangat mahal. Semoga Allah mengistikamahkan kita di atas ketaatan kepadaNya.
Wallahu A’lam.

lihat sambungannya pada postingan berikutnya.

Kamis, 28 September 2017

Lakukan Hal Ini Agar Terus Istiqomah

Sumber gambar: Google.co.id

Iman seseorang kadang naik dan kadang pua turun. Agar kamu tetap istiqomah, sahabat Pusdamm akan memberikan tips yang harus kamu terapkan. Yuk simak penjelasan di bawah ini.

1.      Pahami dan amalkan dua kalimat syahadat
Sahabat Pusdamm, ada kalanya kita harus mengetahui dan mendalami makna dua kalimat syahadat ini. Bagaimana tidak, dua kalimat syahadat memiliki banyak keutamaan. Di antaranya adalah membebaskan diri dari api neraka. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. Dalam haditsnya:
“Suatu saat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mendengar muadzin mengucapkan ’Asyhadu alla ilaha illallah’. Lalu beliau mengatakan pada muadzin tadi, ”Engkau terbebas dari neraka.” (HR. Muslim no. 873)

2.     Hayati dan renungkan setiap ayat Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kitab suci yang menyejukkan jiwa. Oleh karena itu, dengan menghayati dan merenungkan setiap ayat-ayatnya akan membuat hati menjadi tenang dan istiqomah. Sebagaimana firman Allah SWT. :
 “Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril)[11] menurunkan Al Qur’an itu dari Rabbmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.” (QS. An Nahl: 102)

3.     Membaca kisah para sahabat Rasul maupun orang-orang saleh
Kisah yang sifatnya memotivasi akan membuat kita istiqomah dalam menjalankan agama yang kita cintai ini, Islam. Mulailah membaca kisah para sahabat dan petik hikmah di dalamnya.
“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Hud: 11)

4.     Perbanyak doa
Berdoalah kepada Allah Swt. dan niscaya kamu akan diberi keistiqomahan. Allah senantiasa Menyayangi hamba-hambanya dan ridho atas semua kebaikan yang dilakukan.
 “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imron: 8)

5.     Bergaul dengan orang yang shalih
 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur).” (QS. At Taubah: 119)

mudah-mudahan tips di atas bisa memotivasi kamu sehingga bisa terus diberi keistiqomahan. Aamiin.
Wassalam.


Oleh: Departemen Syiar Pusdamm FBS UNM